Bukalapak

Bagaimana jika segala yang selama ini kita pegang teguh sebagai keyakinan atau kebenaran tiba-tiba goyah, dan perlahan menampakkan sisi lain yang sebaliknya?

Bagaimana jika segala yang selama ini kita pegang teguh sebagai keyakinan atau kebenaran tiba-tiba goyah, dan perlahan menampakkan sisi lain yang sebaliknya?


Order Via Bukalapak

Rp 88,000

Add to Cart
Order Via Bukalapak

(Copas dari Blog  http://www.qureta.com/post/tentang-siwa-yang-lupa-bertanya ) Bagaimana jika segala yang selama ini kita pegang teguh sebagai keyakinan atau kebenaran tiba-tiba goyah, dan perlahan menampakkan sisi lain yang sebaliknya?

Demikian pertanyaan pokok yang tersirat lewat novel Siwa: Kesatria Wangsa Surya karya penulis India, Amish Tripathi. Novel ini seri pertama dari trilogi yang mengisahkan perjalanan Siwa memenuhi takdirnya sebagai Nilakantha, juru selamat umat manusia.

Dituturkan Siwa memimpin Suku Guna di Gunung Kailasha, Tibet, pada 1900 Sebelum Masehi. Sukunya terlibat perang berkepanjangan dengan Suku Pakrati, yang membuat Siwa merasa jengah dan sia-sia. Hingga kemudian datang utusan dari Meluha, kerajaan terkaya dan terkuat di Jambhudwipa (India).

Utusan tersebut mengajak Siwa dan warganya tinggal di wilayah Meluha. Di sana mereka dijamin bakal bisa hidup damai serta diberi tanah garapan dan perlengkapan untuk bertani. Suku Guna cukup membayar pajak dan mengikuti aturan yang berlaku.

Mempertimbangkan hari esok yang lebih cerah, Siwa menerima tawaran tersebut. Setiba di Meluha, dia sangat terkesan. Kotanya rapi dan bersih. Orang-orangnya, yang dikenal sebagai Wangsa Surya, demikian jujur, berani, dan bersetia pada kebenaran.

Hanya ada satu persoalan: Wangsa Surya terseret perseteruan abadi dengan Wangsa Chandra, yang tinggal di negeri tetangga, Swadwipa. Dalam banyak hal, Wangsa Chandra digambarkan sebagai kebalikan dari Wangsa Surya.

Mereka, misalnya, kerap melakukan serangan mendadak kepada warga biasa dan brahmana, dan tanpa segan menghabisi nyawanya. Ini bertentangan dengan hukum perang leluhur yang hanya membolehkan serangan terbuka di medan laga terhadap prajurit bersenjata.

Sedangkan Wangsa Surya tetap menjunjung hukum dan tak pernah menyerang warga Wangsa Chandra. Dan mereka kalah jumlah, dengan sebagian besar penduduk semakin resah akibat teror yang terus dilakukan musuhnya.

Mental prajuritnya pun kian merosot, karena tiap kali tiba di daerah yang baru diserbu Wangsa Chandra, mereka hanya menemukan mayat-mayat bergelimpangan. Dalam kondisi macam itulah, di tengah mereka hidup nubuat akan hadirnya Nilakantha, yang dikenali lewat leher berwarna nila setelah meneguk Somras—minuman para dewa.

Dan ternyata leher Siwa berubah nila setelah meminum ramuan tersebut, sehingga dia ketiban amanat menjadi juru selamat. Tentu awalnya Siwa menganggap nubuat itu omong kosong belaka, meski dia bersedia membantu orang-orang Meluha menumpas kebatilan Wangsa Chandra.

Pada akhirnya perang besar tak terhindarkan, dan seperti sudah diramalkan, Siwa berhasil mempersembahkan kemenangan. Namun dia terguncang mendapati kenyataan bahwa Wangsa Chandra memiliki ramalan yang sama: akan datang seorang satrio piningit yang nanti membantu mereka menghancurkan Wangsa Surya yang jahat.

Apalagi Siwa kemudian tidak mendapati sesuatu yang “benar-benar jahat” dalam diri Wangsa Chandra. Mereka hanya berbeda. Lebih luwes terhadap hukum. Dan mereka bersumpah sama sekali tidak pernah menyerang Wangsa Surya dalam seratus tahun terakhir.

Persis pada titik inilah sang Nilakantha menyadari persoalan yang sangat mendasar tapi kerap dilupakan: sudut pandang. Kenyataan terdiri atas sekian ratus ribu sudut pandang, bahkan mungkin jauh lebih banyak lagi. Namun manusia hanya punya dua mata, dan lebih sering mengambil keputusan dari sudut pandang yang serba terbatas.

Siwa pun terperenyak. Sebelum mengobarkan perang membasmi kejahatan, dia lupa untuk terlebih dulu bertanya apakah kejahatan itu? Upaya menyudahi rasa jengah dan sia-sia akibat peperangan antar-suku di Gunung Kailasha justru membawanya pada rasa jengah dan sia-sia yang jauh lebih hebat akibat peperangan antar-wangsa.

Namun cerita belum usai. Selanjutnya Siwa akan berhadapan dengan bangsa Naga, yang membuat Wangsa Surya mengira Wangsa Chandra selama ini merongrong warganya. Dan cerita tetap belum usai ... ketika kita hari ini, berabad-abad kemudian, masih mengumandangkan perang melawan terorisme, melawan kekafiran, tanpa sedikit pun berusaha bertanya apa itu teror, apa itu kafir.

Judul buku: Siwa: Kesatria Wangsa Surya
Penulis: Amish Tripathi
Penerbit: Javanica
Cetakan: Pertama, Oktober 2016
Tebal: 427 hlm.


TELAH TERBIT!
Novel Mega Bestseller SIWA (Kesatria Wangsa Surya)
----------------------------------------------------------------
Kisah ini terjadi ribuan tahun silam di Lembah Sungai Indus. Orang-orang di kurun itu menyebutnya Meluha. Penduduknya berumur sangat panjang berkat ramuan misterius bernama Somras, yang dicipta dari pohon Sanjiwani dan tirta suci Saraswati. Negeri yang dihuni Wangsa Surya ini menghadapi ancaman hebat ketika sungai utama mereka mengering pun dirundung serangan para pengacau dari timur: negeri Wangsa Chandra. Keadaan bertambah gawat ketika Wangsa Chandra tampaknya bersekutu dengan kaum Naga, bangsa yang sangat lihai berperang. 
.
Ketika kejahatan merajalela, rakyat Meluha berharap pada sebuah ramalan kuno tentang seorang kesatria yang bakal tiba dan membebaskan mereka dari malapetaka. Dalam keputusasaan, muncul seorang pengungsi liar dari Gunung Kailasha, Tibet. Siwa namanya. Ciri-cirinya persis seperti ramalan. Apakah ia memang kesatria pembebas yang diramalkan? Dan apakah ia berhasrat menjadi juru selamat yang diharapkan? Terseret oleh arus takdirnya, oleh dharma, oleh cinta kepada kekasihnya, Siwa memimpin Wangsa Surya menerjang badai prahara.
.
Didasarkan pada wiracarita dan sejarah kuno, novel langka ini mengungkap kisah tersembunyi tentang kehidupan Siwa sang Mahadewa. 
---------------------------------------------
Pencinta sejarah dan mitologi tak akan bisa berhenti membacanya.
Society
.
Membuka ceruk-ceruk terdalam jiwa dan kesadaran kolektif manusia.
Deepak Chopra
.
Penuh aksi, intrik, dan ujaran filsafat yang mendalam.
Outlook
---------------------------------------------
Judul Asli: The Immortals of Meluha
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Desak N. Pusparini
Penyunting: Shalahuddin Gh
Penyelaras Bahasa: I Wayan Sariana
Pelukis Kover: Imam Bucah
Pemindai Aksara: Jenny M Indarto
Jumlah Halaman: 427 hlm.
Harga Asli: Rp 88.000,-
Harga Diskon: Rp 74.000,- (belum ongkir)
---------------------------------------------

Add a Review?

Formulir Kontak

Shipping & Returns

Pengiriman menggunakan POS INDONESIA, JNE, TIKI, WAHANA.
Jika terdapat kerusakan pada buku, misalnya :

  • Halaman tidak komplit
  • Kertas Rusak
  • Tulisan kabur
Silakan claim penukaran buku dengan memberitahukan kepada admin ke WA : 0813.9372.5615.

Buku yang rusak silakan dikirimkan ke :
Eko Waluyo
Jl. Kenanga 2 Gg. Dolang No. 14, RT 08 RW 02, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur - 13790.
HP : 0813.9372.5615.

Setelah buku yang rusak sudah kami terima, maka segera kami kirimkan buku yang baru dan telah kami periksa kondisinya OK ( sudah lepas segel ).

http://www.ikekobookstore.com/siwa-kesatria-wangsa-surya